Menjaga Pancasila Tetap "Bernapas" di Kota Bengawan


 Menjaga Pancasila Tetap "Bernapas" di Kota Bengawan

SURAKARTA — Pagi itu, Senin (1/6/2026), halaman Balai Kota Surakarta tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya ratusan aparatur dan elemen masyarakat. Di bawah langit cerah Kota Bengawan, upacara peringatan Hari Lahir Pancasila bertransformasi menjadi sebuah ruang refleksi kolektif. Di tengah kepungan disrupsi digital dan dinamika global yang kian tak menentu, momentum sejarah ini digelorakan bukan lagi sebagai ritual tahunan yang usai begitu barisan dibubarkan, melainkan sebagai manifesto merawat bangsa.


Kekhidmatan upacara terasa pekat. Lintas generasi dan elemen berdiri dalam satu frekuensi kebangsaan. Mulai dari jajaran TNI-Polri, Aparatur Sipil Negara (ASN), organisasi kemasyarakatan, hingga pelajar. Di antara barisan yang rapi tersebut, satu Satuan Setingkat Peleton (SST) berisi 31 personel Senkom Mitra Polri Kota Surakarta tampak bersiaga penuh. Kehadiran mereka memenuhi undangan resmi pemerintah daerah menjadi potret konkret dari komitmen sipil dalam bela negara.


Bintang Penuntun di Era Disrupsi


Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Komandan Kodim (Dandim) 0735/Surakarta, Letkol Inf Arief Handoko Usman, S.H., membacakan amanat tertulis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI. Mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", pesan yang digaungkan tahun ini terasa lebih menyengat dan kontekstual.


"Pancasila adalah bintang penuntun bangsa. Di tengah ketidakpastian global dan berbagai potensi keretakan sosial, Indonesia tetap berdiri kokoh karena memiliki fondasi nilai yang mampu mengikat keberagaman menjadi satu identitas," ujar Letkol Inf Arief Handoko, menegaskan substansi amanat.


Ia mengingatkan bahwa ketahanan sejati sebuah negara tidak hanya dihitung dari angka-angka pertumbuhan ekonomi atau lompatan teknologi, melainkan dari luhurnya kemanusiaan, tradisi musyawarah, toleransi, serta keadilan yang dirasakan warganya. Ia mengetuk kesadaran peserta upacara agar tidak membiarkan ideologi negara ini membeku menjadi sekadar artefak sejarah.


"Jangan biarkan Pancasila hanya menjadi tulisan mati di buku atau ornamen pajangan di dinding. Nilai-nilainya harus hidup, bernapas, dan mewujud dalam setiap kebijakan serta perilaku kita sehari-hari," tambahnya.


Upacara ini juga merefleksikan soliditas struktural kepemimpinan Solo. Di panggung kehormatan, hadir jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) secara lengkap, antara lain:


Walikota Surakarta: Respati Achmad Ardianto, S.H., M.Kn.


Wakil Walikota Surakarta: Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A.


Danrem 074/Warastratama: Kolonel Inf Muhammad Arry Yudistira, S.I.P., M.I.Pol., M.Han.


Kapolresta Surakarta: Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo, S.I.K., M.H.


Dari Seremonial Menuju Aksi Nyata


Bagi Senkom Mitra Polri Kota Surakarta, keterlibatan aktif dalam upacara ini merupakan ekstensi dari ritme pergerakan mereka di lapangan. Sebagai organisasi yang bergerak di klaster komunikasi, keamanan, dan kebencanaan, Pancasila diposisikan sebagai bahan bakar utama penggerak para relawan.


Ketua Senkom Mitra Polri Kota Surakarta, Yusuf Erwansyah, menegaskan bahwa peringatan 1 Juni harus dimaknai sebagai panggilan untuk melipatgandakan kontribusi riil, bukan terjebak dalam romantisme masa lalu.


"Pancasila adalah perekat yang menyatukan seluruh elemen. Sebagai bagian dari masyarakat, Senkom berkomitmen menjaga stabilitas itu. Kami ingin memastikan nilai-nilai tersebut teraplikasikan lewat aksi nyata di bidang keamanan, ketertiban, dan kemanusiaan," ungkap Yusuf usai upacara.


Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di Surakarta ini pada akhirnya mengirimkan pesan kuat ke luar pagar Balai Kota: bahwa di tengah dunia yang bergerak semakin kompleks, bangsa ini hanya akan tetap tegak berdaulat jika seluruh elemennya sepakat menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology).


Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Memperkokoh Ideologi, Meneguhkan Persatuan Indonesia. (Ghoni)

أحدث أقدم
Liputan Keren